No. panggil: 323.44 STE n
Majalah Tempo adalah
majalah berita Indonesia
yang paling penting dalam
bentuk edisi mingguan, dan editor utamanya, Goenawan Mohamad, salah
satu penyair Indonesia terkemuka dan intelektual. Namun, meski pengaruhnya besar, sejarah majalah
Tempo tidak diketahui secara luas. Namun semua aspek sejarah
Tempo, termasuk akarnya di lingkungan sastra dan budaya dari tahun 1960-an, organisasi
ekonomi dan manajemen, budaya internal dan strategi untuk bertahan hidup dalam
sistem pers yang represif, memberikan jendela ke dalam sejarah politik dan budaya
Orde Baru di Indonesia.
Tempo menduduki posisi ambigu dalam Orde Baru di Indonesia, dan dalam buku Wars Within: The Story of Tempo ini, sebuah majalah Independent Soeharto Indonesia mengeksplorasi kontradiksi-kontradiksi dan paradoks. Jelas merupakan produk Orde Baru, Tempo tetap menyajikan pandangan yang independen walaupun cukup sering beresiko. Pemerintah Soeharto tidak pernah monolitik, dan kisah tentang bagaimana Tempo berhasil bertahan selama 23 tahun dalam pemerintahan otokratis yang menyoroti budaya dan politik Indonesia modern. Hal ini juga menyoroti pertanyaan yang lebih luas tentang peran pers di negara berkembang.
Ditulis dalam gaya narasi, buku ini memanfaatkan berbagai metode dan sumber, termasuk observasi partisipan, analisis bagian isi Nasional Tempo, termasuk peristiwa 1984 di Tanjung Priok, bahan arsip yang sebelumnya tidak dipublikasikan, dan lebih dari seratus wawancara dengan pendiri majalah, penulis, dan kontributor. Dalam buku ini terdapat pula teks tambahan yang ideal dalam kuliah sejarah Asia Tenggara, politik, dan budaya, serta dalam kuliah komunikasi internasional dan studi media.
Tempo menduduki posisi ambigu dalam Orde Baru di Indonesia, dan dalam buku Wars Within: The Story of Tempo ini, sebuah majalah Independent Soeharto Indonesia mengeksplorasi kontradiksi-kontradiksi dan paradoks. Jelas merupakan produk Orde Baru, Tempo tetap menyajikan pandangan yang independen walaupun cukup sering beresiko. Pemerintah Soeharto tidak pernah monolitik, dan kisah tentang bagaimana Tempo berhasil bertahan selama 23 tahun dalam pemerintahan otokratis yang menyoroti budaya dan politik Indonesia modern. Hal ini juga menyoroti pertanyaan yang lebih luas tentang peran pers di negara berkembang.
Ditulis dalam gaya narasi, buku ini memanfaatkan berbagai metode dan sumber, termasuk observasi partisipan, analisis bagian isi Nasional Tempo, termasuk peristiwa 1984 di Tanjung Priok, bahan arsip yang sebelumnya tidak dipublikasikan, dan lebih dari seratus wawancara dengan pendiri majalah, penulis, dan kontributor. Dalam buku ini terdapat pula teks tambahan yang ideal dalam kuliah sejarah Asia Tenggara, politik, dan budaya, serta dalam kuliah komunikasi internasional dan studi media.
20/03/13
Aprillianawati, S.Pd

Tidak ada komentar:
Posting Komentar